
TBD Agency
Ayo Nusantara, Jakarta - Perubahan perilaku konsumen di Indonesia semakin mengarah ke social commerce, di mana proses pembelian terjadi langsung melalui konten digital seperti video dan live streaming.
Berdasarkan riset terbaru, lebih dari 97% konsumen Indonesia pernah berbelanja melalui social commerce, termasuk platform seperti TikTok dan Instagram. Fenomena ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran tidak lagi cukup hanya mengandalkan marketplace atau iklan konvensional.
Perubahan Besar: Dari Search ke Konten
Selain itu, data menunjukkan bahwa platform seperti TikTok Shop kini menjadi salah satu kanal utama belanja online. Sekitar 27,37% pengguna internet Indonesia aktif mengakses TikTok Shop, menjadikannya pesaing kuat marketplace besar. Bahkan, lebih dari 61% pengguna TikTok Indonesia pernah membeli produk setelah melihat konten di platform tersebut.
Menurut Raynaldy, owner TBD Agency, perubahan ini sangat signifikan bagi brand.
“Dulu orang cari produk di marketplace, sekarang mereka ‘ketemu produk’ lewat konten. Itu perubahan yang sangat besar dalam cara orang membeli,” ujarnya.
Nilai Pasar Tembus Miliaran Dolar
Pertumbuhan ini juga tercermin dari nilai pasar. Social commerce di Indonesia diproyeksikan mencapai USD 5,25 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan lebih dari 17%.
Hal ini diperkuat dengan nilai transaksi e-commerce nasional yang mencapai Rp134,67 triliun pada kuartal III 2025, tumbuh sekitar 20% secara tahunan.
Strategi Lama Sudah Tidak Relevan
Raynaldy menilai banyak brand masih menggunakan pendekatan lama yang kurang efektif di era saat ini.
“Masalahnya bukan di produknya, tapi di cara menjualnya. Banyak brand masih pakai cara lama di dunia yang sudah berubah,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kombinasi antara konten, ads, dan live streaming kini menjadi kunci utama.
Konten Jadi Mesin Penjualan Baru
Menurutnya, konten bukan lagi sekadar alat branding, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem penjualan.
“Sekarang konten itu bukan hanya untuk dilihat, tapi untuk menjual. Kalau konten tidak bisa convert, berarti ada yang salah di strateginya,” tambah Raynaldy.
Dengan pertumbuhan social commerce yang semakin pesat, brand dituntut untuk beradaptasi lebih cepat. Strategi berbasis konten, data, dan interaksi kini menjadi faktor utama dalam memenangkan persaingan digital.